-->

Update

Tag Terpopuler

1 Januari : Sejarah dan Tradisi Awal Tahun Baru

04 Desember 2015 | 17:33 WIB Last Updated 2018-01-06T01:01:44Z
Peradaban yang ada di seluruh dunia telah merayakan awal setiap tahun baru setidaknya selama 4.000 tahun. Namun masing-masing peradaban meiliki sistem penanggalan yang berbeda, sehingga hari peringatan awal tahun baru juga berbeda. Dalam peradaban sekarang ini, tanggal 1 Januari ditetapkan sebagai awal dari tahun baru yang didasarkan dari kalender Gregorian.
Perayaan tahun baru paling awal terjadi pada 4.000 tahun yang lalu pada peradaban Babilonia kuno. Bangsa Babilonia merayakan bulan baru pertama setelah “Vernal Equinox” yaitu sebuah hari pada akhir Maret yang dianggap bahwa itu sinar Matahari telah datang meleyapkan kegelapan. Mereka menandai hari tersebut dengan sebuah festival besar agama disebut Akitu (berasal dari bahasa Sumeria untuk Jelai yang dipotong pada musim semi). Ritual perayaan ini akan berlangsung selama 11 hari. Selain sebagai tanda awal tahun baru, Akitu juga sebagai perayaan kemenangan dalam mitos Babilonia yaitu Dewa Langit Marduk berhasil mengalahkan Dewi Laut Tiamat yang jahat. Biasanya dalam hari itu akan dinobatkan raja baru atau raja memperbaruhi sumpahnya. Sementara bangsa Mesopotami mulai merayakan tahun baru pada tahun 2.000 SM
Sistem kalender dalam peradaban kuno  yang berkembang semakin canggih biasanya menyematkan hari pertama tahun baru untuk kegiatan yang berhubungan dengan pertaniaan atau astronomi. Di Mesir kuno, tahun baru dimulai dengan banjir tahunan Sungai Nil yang bertepatan dengan munculnya bintang Sirius. Sementara hari pertama tahun baru Cina kuno terjadi setelah munculnya bulan baru setelah titik balik matahari musim dingin.
Kalender Kuno Bangsa Romawi

Kalender Romawi, pada awalnya terdiri dari 10 bulan atau 304 hari, dengan setiap tahun baru dimulai setelah “Vernal Equinox”. Tradisi ini diciptakan oleh Romulus, pendiri Roma pada abad ke-8 SM.  Kaisar Roma berikutnya, Numa Pompilius menambahkan 2 bulan dalam sistem kalender yaitu Januarius dan Februarius. Selama berabad-abad sistem kalender tidak sinkron dengan perputaran matahari. Pada tahun 46 SM, Kaisar Julius Caesar memutuskan untuk memecahkan masalah “waktu” dengan berkonsultasi bersama para astronom. Dia memperkenalkan kalender Julian yang mirip dengan kalender Geregorian yang digunakan masa sekarang ini.

Sebagai bagian dari reformasi itu, Julius Caesar menjadikan 1 Januari sebagai hari pertama dalam setahun. Tujuannya juga untuk menghormati Dewa Janus, Dewa pagan, Dewa Romawi awal yang memiliki dua wajah untuk memungkinkannya melihat kembali ke masa lalu dan melihat masa depan. Jadi awal  tahun baru ini didedikasikan untuk perayaan tradisi pagan. Awal tahun baru ini dirayakan dengan memberikan persembahan atau korban untuk Dewa Janus, bertukar hadiah satu sama lain, mendekorasi rumah dan menghadiri pesta.
Di Eropa pada abad pertengahan, para pemimpin Gereja mengganti waktu awal tahun baru. Karena 1 Januari berdekatan dengan 25 Desember yang sekaligus diperingati sebagai hari Natal atau hari kelahiran Yesus. Kemduian awal tahun baru jatuh pada bulan Maret Equinos yang disebut sebagai Hari Raya kabar Sukacita Yesus Kristus. Paus Gregorius XIII mengembalikan 1 Januari sebagai awal tahun baru kembali pada tahun 1582.
Ilustrasi Saat Yesus Disunat

Kebanyakan negara-negara Eropa Barat secara resmi menggunakan 1 Januari sebagai Tahun Baru setelah mereka mengadopsi Kalender Gregorian. Di Inggris, Kalender Gregorian mulai diadopsi pada tahun 1752. Sebelumnya di Inggris, awal tahun baru jatuh pada 25 Maret bertepatan dengan Pesta Annunciation atau yang biasa disebut “Lady Day”. Sementara 1 Januari disebut sebagai hari “Sunat Style” untuk meperingati hari kedelapan dari kehidupan Yesus Kristus setelah kelahiranNya. Dimana delapan hari setelah kelahiranNya, Yesus disunat. Pemberian nama kalender Gregorius ini didasarkan pada Paus Gregorius yang dibaptis pada 1 Januari menurut sistem Liturgi Kalender Katholik.

Sumber: