Indeks Artikel

Sejarah Suku Kisar

Senin, Maret 21, 2016 10:46 WIB
Suku Dunia ~ Orang Kisar berdiam di pulau Kisar, di Kepulauan bagian selatan Kepulauan Maluku. Pulau Kisar kini merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Kisar dengan ibu Kota Wonreli.


Kecamatan ini terdiri atas 41 desa dengan jumlah penduduk 20.903 jiwa pada tahun 1986. Sumber lain menyebut nama kecamatan ini adalah Kecamatan Pulau-Pulau Terselatan bersama-sama dengan pulau Wetar, pulau Roma, dan pulau Damar.

Dalam rangka sensus penduduk tahun 1930, masyarakat pulau-pulau tersebut di atas dikelompokkan menjadi kelompok kepulauan Barat Daya bersama dengan sejumlah masyarakat pulau lainnya lagi (masyarakat pulau Leti, Lakor, Luang, Sermata).

Keseluruhan warga kelompok Kepulauan Barat-Daya itu pada tahun tersebut adalah 39.500 jiwa. Kini keempat pulau yang disebut terakhir merupakan wilayah Kecamatan Serwaru dengan jumlah penduduk 14.757 jiwa pada tahun 1986.

Orang Kisar memiliki bahasa sendiri yaitu bahasa Kisar. Sumber tertentu mengemukakan bahwa penutur bahasa Kisar tidak hanya penduduk pulau Kisar, tetapi juga anggota masyarakat beberapa pulau lain di sekitarnya.

Pulau Kisar memang merupakan pulau yang relatif kecil dibandingkan dengan beberapa pulau sekitarnya seperti pulau Wetar. Jumlah penutur bahasa Kisar belum diketahui karena belum ditemukan sumber data tentang hal itu. Sebagai gambarann dapat dilihat dimana penduduk Kecamatan Pulau-Pulau Terselatan pada tahun 1986 berjumlah 20.903 jiwa. Penutur bahasa Kisar termasuk dalam jumlah tersebut di Kecamatan itu. Bahasa Kisar termasuk pula sebagai salah satu dari 10 bahasa di Maluku dalam kelompok yang disebut bahasa Siwalema.

Dalam sistem kekerabatan orang Kisar menarik garis keturunan secara patrilineal, artinya menarik garis keturunan pada pihak ayah atau laki-laki. Orang Kisar dikenal dengan kehalusan hasil kerajinan tenunnya. Kain tenun itu disertai dengan motif-motif hiasan yang indah. Mereka juga pernah memiliki patung penjaga yang terbuat dari batu padas. Patung itu biasanya diletakkan di batas pekarangan atau kebun untuk menjaga datangnya gangguan.

Sumber : Ensiklopedi Suku Bangsa Di Indonesia oleh M. Junus Melalatoa