Indeks Artikel

5 Perang Besar dengan Korban Terbanyak Sepanjang Sejarah

Minggu, Juni 19, 2022 04:49 WIB


 
“War is what happens when language fail” –Mark Twain
 

Kenyataannya memang begitu, perang terjadi ketika kata-kata tidak lagi mampu menjadi jembatan di antara dua pihak. Akhir-akhir ini makin banyak peperangan terjadi dan entah berapa banyak jiwa melayang dibuatnya. Sebut saja Palestina dan Suriah, dua kawasan konflik yang paling menyita perhatian dunia. Banyak spekulasi bermunculan tentang penyebab perang-perang itu terjadi. Perundingan-perundingan dilakukan, toh nyatanya perang tetap berlanjut.

Mulut-mulut manusia berpindah ke moncong senapan. Ketimbang duduk bersama berunding dengan damai, mereka memilih berbicara lewat peluru. Lalu darah segar dan luka parah adalah jawaban dari si lawan bicara. Berikut ini adalah 5 perang besar dalam sejarah dengan korban jiwa terbanyak:

1. Ekspansi Mongol (1300-1400an)


Ekspansi Mongol adalah bentuk upaya Kerajaan Mongolia untuk memperluas daerah kekuasaan dengan menaklukan seluruh daratan Eurasia. Ekspansi ini dipimpin oleh Genghis Khan, seorang panglima perang andalan Mongolia yang kisahnya pernah diangkat ke layar lebar dalam film Mongol yang rilis pada 2007. Dikutip dari www.kapanlagi.com, film yang berkisah tentang Genghis Khan itu berhasil menyabet nominasi Film Berbahasa Asing Terbaik pada gelaran Academy Awards di tahun yang sama dengan peluncurannya.

Di bawah kepemimpinan Genghis Khan, Mongol berhasil menguasai 22% dari kawasan Asia Timur dan Tengah. Ekspansi terus berlanjut setelah Genghis Khan wafat. Di bawah komando keturunan-keturunan Genghis Khan, ekspansi terus berlanjut sampai ke daratan Eropa. Peperangan antara bangsa Mongol dengan wilayah-wilayah jajahannya ini mengakibatkan lebih dari 60 juta nyawa melayang. Wow! ( sumber: www.wikipedia.org )

2. Penaklukan Dinasti Ming (1616-1644)


Peperangan yang terjadi di Beijing ini terjadi karena perebutan kekuasaan. Dikutip dari www.indowebby.com, di penghujung Dinasti Ming banyak terjadi pemberontakan yang dikomandoi seorang Li Zicheng. Suku Manchu yang saat itu merupakan penduduk asli Beijing berusaha menentang Li Zicheng untuk menggulingkannya dan mengakhiri pemberontakan. Di tahun 1644, suku Manchu berhasil mengusir dan menumpas sebagian besar pengikut Li Zicheng. Mereka kemudian mendirikan Dinasti Qing sebagai tanda berakhirnya Dinasti Ming.

Peperangan ini sedikitnya menewaskan 25 juta orang dan menimbulkan pertempuran berikutnya antara Dinasti Qing dengan sisa-sisa pengikut setia Li Zicheng yang mengungsi ke Selatan, yang menyebut diri mereka sebagai Kelompok Ming Selatan.

3. Pemberontakan Taiping (1850-1864)


Pemberontakan Taiping adalah bentuk revolusi besar-besaran di China Selatan terhadap suku Manchu. Pemberontakan yang dipimpin oleh seorang Hong Xiquan yang membangun Kerajaan Surga Taiping dengan ibukota Nanjin karena mendapat pesan dari mimpi yang menyatakan bahwa ia adalah adik dari Yesus, Hong Xiquan mampu menguasai sebagian besar China Selatan dengan pengikut kurang lebih 30 juta orang.

Kerajaan Surga Taiping itu mencoba untuk melaksanakan beberapa reformasi sosial, seperti pemisahan seks yang ketat, penghapusan tradisi mengikat kaki, sosialisasi tanah, penekanan perdagangan pribadi, dan menggantikan Konfusius, Buddha dan agama tradisional Cina menjadi Kristen. Selama hampir 15 tahun terjadi pemberontakan, sedikitnya 30 juta nyawa warga sipil dan tentara melayang sia-sia. (sumber: www.indowebby.com)

4. Perang Dunia I (1914-1918)


Topik penyebab Perang Dunia I ini banyak dibicarakan oleh para ahli dan pengamat sehingga menghasilkan tafsir yang berbeda-beda. Tetapi yang menjadi inti permasalahan adalah persaingan kekuatan aliansi antar negara yang terlibat dalam perang-perang kecil sebelumnya.

Perang global pertama ini berpusat di eropa dengan melibatkan 2 kubu aliansi yaitu Sentral (Jerman dan Austria-Hungaria) dan Sekutu (Inggris, Perancis, dan Rusia). Di pertengahan perang masuk beberapa negara sebagai anggota baru di mana Amerika, Italia, dan Jepang bergabung dengan Sekutu, sedangkan Turki dan Bulgaria masuk ke kubu Sentral.

Perang yang berakhir dengan kemenangan di pihak Sekutu ini setidaknya telah menewaskan lebih dari 30 jutaorang dan melibatkan hampir 70 juta orang tentara dari berbagai negara. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) didirikan pada penghujung 1945 sebagai upaya untuk mencegah terjadinya peperangan serupa berikutnya. (sumber: www.wikipedia.org)

5. Perang Dunia II (1939-1945)


Sebagai lanjutan dari Perang Dunia I, perang ini juga melibatkan dua kubu, Sekutu dan Sentral/Poros, dengan negara peserta yang lebih banyak lagi. Keadaan yang mengerikan di Perang Dunia I mendorong banyak negara untuk membuat aliansi dengan negara lain yang sudah lebih dulu berada dalam Sekutu dan Sentral. Pertimbangan negara-negara baru dalam memilih aliansi tentu saja dari kekuatan militer, persenjataan, dan ekonomi.

Perang Dunia II sudah diprediksi akan terjadi sejak berakhirnya Perang Dunia I yang memenangkan pihak Sekutu. Pecah perang ini dipantik oleh perseteruan Polandia dan Jerman yang berasal dari kubu berbeda. Nuklir dan senjata kimia berbahaya lainnya digunakan dalam perang ini sehingga menewaskan lebih banyak orang dan menimbulkan kerusakan alam berat sebagai dampaknya. Perang Dunia II dianggap sebagai kegagalan PBB dalam menjaga kedamaian dunia. Tercatat hampir 100 juta orang meninggal dunia dan lebih dari 9 juta orang dinyatakan hilang. (sumber: http://www.wikipedia.org)

 
“War does not determine who is right, only who is left.” –Bertrand Russell